9 PEMIKIRAN USANG, PENGHAMBAT PERADABAN Sains ISLAM, ADA LAGI?

"Peradaban besar itu tidak akan bisa dihancurkan musuh dari luar, kecuali memang sudah keropos-usang dari dalam." (Life & Death Teacher) 

--0O0--


1 pertanyaan kritis: mengapa peradaban besar Islam yang melahirkan karya besar Al-Khawarizmi, Al-Biruni, Ibn Al-Haytsam, dan Ibnu Sina — Peradaban besar yang selama lima abad memimpin dunia dalam matematika, astronomi, optika, kedokteran, dan filsafat — berhenti di tengah jalan?

Jawaban gampangnya adalah serangan eksternal: kolonialisme, perang, kemiskinan, ketidakstabilan politik. Semua itu nyata dan tidak bisa diabaikan. Namun jawaban itu tidak memuaskan secara intelektual, karena peradaban lain juga menghadapi serangan eksternal yang juga berat, namun tetap menghasilkan kemajuan ilmu. Dan yang lebih menyedihkan:  setelah kolonialisme berakhir, dan kemerdekaan diraih,kenapa kebangkitan intelektual generasi muslim penerus yang diharapkan tidak kunjung tiba? meski dengan melimpahnya sumber daya alam yang tersedia? 

Ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang bukan sekedar faktor eksternal. Ada sesuatu "dari dalam", struktur pemikiran usang yang terlanjur lama tertanam — tumbuh menguras energi, memblokir laju peradaban.

Artikel ini adalah upaya untuk mengidentifikasi 9 dari pemikiran itu. Bukan untuk menyerang para pemikir yang merumuskannya — banyak di antara mereka adalah tokoh-tokoh besar yang berjuang dengan serius dan tulus di zamannya. Melainkan untuk melihat dengan jelas apa yang mereka wariskan yang ternyata sudah usang zaman sekarang, agar generasi hari ini bisa berpikir lebih jernih, konsisten dengan nilai quran dan mau jalani hidup lebih produktif.


Pemikiran Pertama: Pembuktian Rukun Iman — Menghancurkan Jantung Logika

Sumber utama: Tradisi kalam Asy'ari, dikodifikasikan dalam Ummul Barāhīn karya Muhammad ibn Yusuf as-Sanusi (1427–1490 M).


Isinya: Eksistensi Allah harus dibuktikan dari pengamatan atas alam semesta melalui argumen-argumen yang diklaim sebagai الْبَرَاهِينُ الْقَطْعِيَّة — bukti-bukti yang konklusif dan definitif. Rukun iman ke-1 bukan diterima sebagai aksioma melainkan dikonstruksi sebagai teorema yang diturunkan dari premis-premis empiris.

Konsekuensi yang dikodifikasikan: As-Sanusi dalam Ummul Barāhīn menulis secara eksplisit: فَإِنْ أَبَى تَبَيَّنَ عِنَادُهُ فَوَجَبَ اسْتِخْرَاجُهُ بِالسَّيْفِ أَوْ يَمُوتَ — "Jika ia tetap menolak, maka jelaslah ia mu'ānid, sehingga wajib dikeluarkan kepalanya dengan pedang atau ia mati."


Dampak Kerusakan epistemologisnya: antisains & matematika. 

Seluruh matematika dan sains modern bekerja berdasarkan prinsip yang berlawanan: ada titik berangkat yang tidak dibuktikan dari sistem yang lebih dasar — aksioma — yang diterima sebagai fondasi dan dari sana seluruh bangunan dikonstruksi secara konsisten. Geometri  Euclid menetapkan postulat tanpa membuktikannya. Newton menerima inersia sebagai aksioma. Einstein menetapkan konstannya laju cahaya sebagai postulat. Gödel membuktikan bahwa setiap sistem formal yang cukup kuat tidak bisa membuktikan seluruh kebenarannya dari dalam sistem itu sendiri — selalu ada yang harus diterima dari luar.

Ketika kalam Asy'ari mengklaim bahwa eksistensi Allah bisa dan harus dibuktikan dari alam semesta secara konklusif, ia melakukan dua kerusakan sekaligus:

Pertama, ia menjadikan Allah teorema — yang berarti keimanan bergantung pada kekuatan argumen, bukan pada penerimaan aksioma. Setiap kali argumen itu dikritisi atau ditemukan kelemahannya, keimanan terancam. Dan argumen-argumen itu memang bisa dikritisi — filsafat sains mutakhir sudah menunjukkan bahwa inferensi dari keteraturan alam ke Pencipta personal bukan qath'ī melainkan plausibel, probabilistik, dan bisa diperdebatkan.


Kedua, ia menanamkan dalam kesadaran umat Islam bahwa memulai dari yang tidak dibuktikan adalah lemah. Ini adalah kerusakan yang lebih dalam karena ia merusak kapasitas untuk berpikir secara aksiomatik — yang merupakan kapasitas paling fundamental dalam matematika dan sains. Ilmuwan yang tidak terbiasa berpikir aksiomatik tidak bisa membangun fondasi teori baru. Ia hanya bisa bergerak di permukaan, tidak bisa menggali ke akar.

ketiga — yang paling sering diabaikan: Pembuktian eksistensi Allah dari alam semesta tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an maupun hadis, bahkan bertentangan. Al-Qur'an tidak pernah memerintahkan manusia untuk membuktikan Allah dari alam semesta — ia memerintahkan manusia untuk membaca āyāt-āyāt-Nya. اقْرَأْ bukan "buktikan" eksistensi-Nya. 

Dalam bahasa Ibnu 'Athaillah: شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ — sangat jauh perbedaannya antara yang menjadikan Allah fondasi pembacaan dan yang menjadikan Allah kesimpulan yang perlu dibuktikan. Kalam Asy'ari memilih yang kedua, dan dengan itu merusak kapasitas berpikir aksiomatik yang merupakan jantung dari matematika dan sains.


Pemikiran Kedua: Kemustahilan Gerak Sekaligus Diam — Memblokir Fondasi Fisika

Sumber utama: Ummul Barāhīn as-Sanusi, dalam pembahasan sifat-sifat mustahil bagi Allah.

Isinya: Di antara hal-hal yang mustahil bagi Allah adalah jamak dan segala yang mengikutinya — termasuk kemustahilan bahwa sesuatu bisa bergerak dan diam secara bersamaan. Ini dijadikan salah satu dari البراهين القطعية dalam sistem kalam.

Kerusakan fisikanya:  Relativitas gerak adalah fondasi yang sudah Galileo rumuskan sebelum Einstein: gerak dan diam adalah konsep yang relatif terhadap kerangka acuan. Seorang penumpang dalam kereta yang bergerak dengan kecepatan konstan adalah diam relatif terhadap penumpang lain dalam kereta yang sama, namun bergerak relatif terhadap orang yang berdiri di stasiun. Tidak ada kontradiksi dalam hal ini — gerak dan diam adalah deskripsi relasional, bukan sifat absolut.

Einstein kemudian memperluas prinsip ini: tidak ada kerangka acuan yang absolut, hukum fisika sama bagi semua pengamat inersial, dan dari dua postulat sederhana ini lahirlah seluruh Teori Relativitas Khusus, kemudian Relativitas Umum, dan pada akhirnya E = mc² yang menjadi fondasi fisika modern.

Ketika kalam menjadikan "kemustahilan gerak sekaligus diam" sebagai salah satu dari البراهين القطعية — bukti konklusif yang tidak boleh digugat — ia secara tidak langsung mendogmatisasi intuisi naif tentang gerak absolut. Seorang murid yang dibentuk oleh sistem kalam ini akan menghadapi hambatan konseptual ketika mencoba memahami relativitas gerak, karena sistem yang ia terima secara teologis sudah menetapkan bahwa "gerak sekaligus diam" adalah mustahil.

Ini bukan kebetulan — ini adalah konflik struktural antara cara kalam membangun kategori-kategori teologis dan cara fisika memahami realitas gerak.

Pemikiran Ketiga: Sains Bukan Masalah Penting dalam Syariat — Memutus Tali Antara Wahyu dan Ilmu

Sumber utama: Tafsīr al-Jalālayn karya Jalāluddīn al-Maḥallī (1389–1459 M) dan Jalāluddīn as-Suyūthī (1445–1505 M), dalam penafsiran ayat-ayat yang berkaitan dengan astronomi dan fenomena alam.

Isinya: Ketika menafsirkan ayat-ayat tentang matahari, bulan, bintang, dan fenomena kosmologis, Tafsīr al-Jalālayn berulang kali menyatakan bahwa detail ilmiah tentang fenomena itu bukan masalah penting dalam syariat — yang penting adalah pelajaran moral dan teologis yang bisa diambil darinya, bukan pemahaman teknis tentang mekanismenya.

Kerusakan peradabannya:

Al-Qur'an menggunakan kata الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ — matahari dan bulan beredar dengan ḥusbān/ perhitungan — tak sekedar puitis, tapi juga sebagai pernyataan bahwa alam semesta adalah sesuatu yang bisa dihitung. Perintah اقْرَأْ — bacalah — bukan hanya tentang membaca teks, melainkan tentang membaca seluruh realitas. وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ — dan di bumi terdapat āyāt-āyāt bagi orang-orang yang yakin — adalah undangan eksplisit untuk meneliti fenomena alam.


Ketika Tafsīr al-Jalālayn yang menjadi referensi standar di pesantren-pesantren selama berabad-abad menyatakan bahwa detail ilmiah astronomi bukan masalah syariat, ia secara efektif memutus hubungan antara wahyu dan penelitian alam. Umat Islam yang terbentuk oleh tafsir ini akan memandang sains sebagai aktivitas yang secara religius netral atau bahkan tidak relevan — bukan sebagai bentuk ibadah dan tadabbur atas āyāt-āyāt Allah.


Bandingkan dengan pendekatan Al-Biruni, yang memandang penelitian astronomis sebagai bentuk membaca āyāt kauniyah — dan yang karena itu mengerjakan astronomi dengan standar ketelitian tertinggi yang zamannya bisa capai. Atau dengan Ibn Al-Haytsam, yang memandang optika sebagai cara memahami bagaimana manusia melihat āyāt-āyāt di dunia. Bagi keduanya, sains dan syariat bukan dua domain yang terpisah — sains adalah cara mengerjakan perintah iqra' secara konkret.


Tafsīr al-Jalālayn memutus tali ini. Dan ketika tali itu putus, umat Islam kehilangan motivasi religius yang paling kuat untuk melakuka riset sains — motivasi yang selama Era Nalar Kedua mendorong lahirnya matematikawan, astronom, dan fisikawan terbesar dunia.


Pemikiran Keempat: Fenomena Alam Sudah Diketahui statis, Fokus Pikiran Dialihkan ke "memikirkan Tuhan".

Sumber: kitab kalam. Isinya: Dalam sistem kalam, alam semesta berfungsi terutama sebagai barang bukti untuk pembuktian eksistensi Allah. Ketika "Allah sudah terbukti ada" melalui argumen keteraturan alam statis, tugas intelektual dianggap selesai di level teologis. Yang tersisa adalah perdebatan tentang sifat-sifat Allah yang menguras energi, bukan semangat penelitian lebih lanjut tentang alam.

Dampak Kerusakan peradabannya:

Ini adalah sekularisasi sains dari dalam — bukan sekularisasi dalam pengertian Barat yang memisahkan sains dari agama, melainkan pengosongan motivasi religius untuk terus meneliti alam. Riset sains sudah tidak lagi dinilai ibadah sang khalifah pemakmur bumi. 

Al-Qur'an tidak pernah berkata bahwa alam semesta sudah selesai dipahami. Sebaliknya, ia berulang kali mengatakan bahwa āyāt-āyāt Allah tidak akan habis meskipun seluruh pohon menjadi pena dan seluruh lautan menjadi tinta (QS. 31:27). وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ — dari apa yang tidak mereka ketahui (QS. 36:36) — adalah pernyataan bahwa selalu ada yang belum diketahui, bahwa domain وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ selalu lebih luas dari yang يَعْلَمُونَ.

Lingkaran pengetahuan yang membesar selalu diikuti keliling yang lebih panjang — semakin banyak yang diketahui, semakin luas batas dengan yang belum diketahui. Seorang yang memahami ini tidak pernah merasa bahwa fenomena alam "sudah diketahui." Setiap jawaban membuka sepuluh pertanyaan baru.

Namun kalam yang menjadikan alam semesta sebagai barang bukti teologis cenderung berhenti ketika "bukti" itu dianggap cukup. Allah sudah terbukti ada — untuk apa meneliti lebih lanjut? Dan dengan berhentinya penelitian atas āyāt kauniyah, umat Islam melepaskan satu dari dua mata yang dibutuhkan untuk membaca realitas secara penuh.


Pemikiran Kelima: الْحَقِيقَةُ فِي الْأَعْيَانِ لَا فِي الْأَذْهَانِ — "realitas ada pada benda-benda eksternal, bukan pada pikiran."

Ini mengingkari Sains Mutakhir dan Ratusan Ayat Al-Qur'an

Sumber: Ibn Taimiyah (1263–1328 M), dalam kritiknya terhadap tasawuf dan filsafat.

Alam semesta material yang bisa diindera adalah realitas yang sejati dan objektif, independen dari pengamat.

Paradoks sejarahnya: Ibn Taimiyah merumuskan ini sebagai kritik terhadap waḥdat al-wujūd Ibnu 'Arabi — sebagai pertahanan terhadap kecenderungan melebur Allah dengan ciptaan. Niatnya dalam konteks itu dapat dipahami. Namun implikasi epistemologisnya melampaui konteks teologis itu dan merusak di domain yang lain.

Kerusakan gandanya:

Pertama, ia bertentangan langsung dengan sains modern. Max Planck setelah seumur hidup mengukur kuanta energi menyatakan: "Saya menganggap kesadaran sebagai yang fundamental. Saya menganggap materi sebagai turunan dari kesadaran." John Archibald Wheeler merumuskan it from bit: realitas lahir dari informasi, bukan sebaliknya. Mekanika Kuantum menunjukkan bahwa tidak ada realitas yang terdefinisi penuh sebelum pengamatan. Donald Hoffman berargumen bahwa persepsi manusia adalah antarmuka, bukan jendela ke realitas objektif.


Jika الْحَقِيقَةُ فِي الْأَعْيَانِ dijadikan prinsip epistemologis yang tidak bisa digugat, maka seluruh perkembangan fisika kuantum, filsafat sains, dan sains kognitif abad ke-20 menjadi sesuatu yang perlu ditolak atau diabaikan.


Kedua, ia mengingkari ratusan ayat Al-Qur'an yang menyebut alam semesta sebagai آيَة — tanda, simbol, kode — bukan sebagai ḥaqīqah yang mandiri. Āyāt bukan realitas yang berdiri sendiri; ia adalah yang-menunjuk, yang maknanya bukan pada dirinya melainkan pada yang ditunjuknya. Doktrin الْحَقِيقَةُ فِي الْأَعْيَانِ secara tidak langsung meningkatkan status ontologis alam semesta dari āyāt menjadi ḥaqīqah — dari yang-menunjuk menjadi yang-dituju itu sendiri.


Ibnu 'Athaillah merumuskan posisi yang lebih tepat: الْأَكْوَانُ ثَابِتَةٌ بِإِثْبَاتِهِ وَمَمْحُوَّةٌ بِأَحَدِيَّةِ ذَاتِهِ — alam semesta ditetapkan ada karena penetapan-Nya, dan terhapus oleh keaḥadiyahan Dzat-Nya. Bukan ḥaqīqah yang mandiri, namun juga bukan ilusi total — melainkan āyāt yang ada karena ditetapkan ada.

Pemikiran Keenam: Tajallī Panteisme Ibnu 'Arabi — Ambiguitas yang Memburamkan Batas.

Sumber: Ibnu 'Arabi (1165–1240 M), dalam Fuṣūṣ al-Ḥikam dan al-Futūḥāt al-Makkiyyah.


Isinya: Waḥdat al-wujūd — hanya Allah yang memiliki Wujud Hakiki, dan seluruh yang tampak beragam adalah tajallī, penampakan bertingkat dari Realitas Yang Esa. Alam semesta adalah manifestasi dari Wujud Mutlak yang memanifestasikan dirinya dalam kemajemukan.

Apresiasinya: Ibnu 'Arabi hidup pada abad ke-13, di saat sains masih dalam tahap embrio dan materialisme kosmologi masih sangat mendominasi. Intuisinya bahwa alam bukan ḥaqīqah yang mandiri adalah intuisi yang jauh lebih dekat ke kebenaran daripada realisme naif yang mendominasinya. Dan dalam domain pengalaman mistik dan penghayatan spiritual, warisannya memiliki nilai tersendiri.


Kerusakan konstruksinya: Masalah bukan pada intuisi Ibnu 'Arabi, melainkan pada model formalnya. Dengan memulai dari "1" — dari Wujud Mutlak yang memanifestasikan dirinya melalui tajallī — ia membuka celah ambiguitas ontologis: kemajemukan alam tampak lahir secara natural dari prinsip Satu, seolah ia adalah konsekuensi intrinsik dari Wujud Ilahi itu sendiri. Di titik ini, batas antara Allah dan ciptaan bisa menjadi kabur.

Ini adalah struktur emanasi, bukan penciptaan. Dan perbedaan antara keduanya sangat fundamental dalam tauhid: dalam emanasi, kemajemukan lahir dari kesatuan secara natural; dalam penciptaan, kemajemukan ada karena ditetapkan ada oleh kehendak yang bebas dari luar sistem.

Konstruksi yang lebih tepat secara tauhid — dan yang lebih presisi secara matematis — adalah konstruksi von Neumann: mulai dari ∅ (himpunan kosong, ketiadaan), dan seluruh bilangan adalah konstruksi ketiadaan yang ditetapkan ada oleh aksioma dari luar sistem. Tidak ada satu bilangan pun yang memiliki kemandirian ontologis. Tidak ada yang lahir secara natural dari prinsip primordial — semua ditetapkan ada dari luar. Ini menjaga pemisahan mutlak antara Yang Menetapkan dan yang ditetapkan.

Matematik adalah tentang ketiadaan dan konstruksi ketiadaan. Selain Allah adalah simbol-Nya, sejatinya tidak ada — bukan karena ia adalah tajallī dari Wujud Allah, melainkan karena ia adalah konstruksi ketiadaan yang ditetapkan ada oleh-Nya. Perbedaan ini bukan teknis — ia adalah perbedaan antara panteisme yang terselubung dan tauhid yang konsisten.

Pemikiran ketujuh: Penutupan Pintu Ijtihad. Ketika tradisi fiqh memutuskan bahwa seluruh persoalan yang perlu diselesaikan sudah diselesaikan oleh para imam mazhab, dan tugas generasi berikutnya hanya mengikuti dan menerapkan — bukan berijtihad dan mengembangkan —  Ditambah budaya verbal bersanad yang sangat dikuduskan hingga dijadikan satu-satunya jalan yang wajib diikuti. ini menanamkan mentalitas yang bertentangan dengan semangat eksplorasi sains yang menghasilkan kebaruan/ inovasi peradaban.

Sains adalah ijtihad yang tidak pernah tertutup; ketika mentalitas "ikut pendapat yang sudah ada" mengalir dari fiqh ke cara pandang umum tentang ilmu, inovasi menjadi tidak terpuji secara kultural. Takut dikatakan bid'ah sesat. 

Contohnya: tafsir bumi datar, geosentris/ bumi pusat semesta, bumi menjadi penjara / hukuman umat manusia akibat moyangnya salah makan buah. Dan Contoh yang paling tragis: Pada tahun 1975 — di tengah perkembangan astrofisika dan program luar angkasa yang paling dinamis dalam sejarah manusia— Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz, ulama tertinggi Arab Saudi, menerbitkan:

الأَدِلَّةُ النَّقْلِيَّةُ وَالْحِسِّيَّةُ عَلَى جَرَيَانِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَسُكُونِ الْأَرْضِ

"Dalil-dalil Naqlī dan Indrawi tentang Bergeraknya Matahari dan Bulan serta Diamnya Bumi."

Ini bukan sekadar pengingkaran fakta sains. Ini adalah demonstrasi dari apa yang terjadi ketika seorang intelektual dengan kemampuan verbal dan naqlī yang sangat tinggi tidak memiliki bahasa visual geometri untuk memahami fenomena kosmologis. Kemampuan verbal silogistik yang luar biasa tidak bisa menggantikan ketidakmampuan untuk membaca geometri orbital dan mekanika langit. Penjara verbal tidak terasa seperti "penjara katak dalam tempurung"— namun ia terasa indah, seperti penguasaan ilmu alat yang lengkap dan sangat kompeten untuk memahami kebenaran quran. 

pemikir Maroko Muhammad 'Ābid al-Jābirī menyatakan dengan sangat eksplisit:

فَالْعَرَبِيُّ يُحِبُّ اللُّغَةَ إِلَى دَرَجَةِ التَّقْدِيسِ

"Orang Arab mencintai bahasa sampai ke derajat pengkudusan (sakralisasi)."

Dan pengkudusan bahasa verbal ini menghasilkan konsekuensi yang sangat konkret dalam kurikulum pendidikan Islam: "ilmu alat" untuk memahami Al-Qur'an dibatasi hanya pada علوم اللسان — bahasa Arab, logika bahasa (manṭiq), tata bahasa (naḥw-ṣarf), dan balāghah. Logika Aristoteles — yang berbasis proposisi verbal — diterima dengan antusias dan menjadi bagian dari kurikulum pesantren. Logika Euclid/ geometri visual — tidak pernah mendapat ruang yang setara. Padahal geometri Euclid penting untuk memahami ayat-ayat ALAM, menjadi induk seluruh fisika modern: koordinat Cartesian, kalkulus, mekanika klasik, kuantum, dan relativitas. 



Pemikiran kedelapan: Dikotomi ilmu agama dan ilmu dunia. Ketika kurikulum pesantren memisahkan "ilmu agama" yang ditinggikan statusnya dari "ilmu dunia" yang direndahkan statusnya, ia secara struktural memisahkan yang seharusnya menjadi satu program terpadu: pembacaan āyāt qauliyah (Al-Qur'an) dan āyāt kauniyah (alam semesta) sebagai dua mode dari satu aktivitas tadabbur yang sama.

Dampaknya banyak muslim menganggap dunia itu remeh cuma penjara hukuman sementara atas dosa durhaka Sang moyang (Adam&Hawa) yang salah makan buah khuldi- umat jadi malas ngapa-ngapain termasuk belajar sains- malas berjuang /bekerja mengolah bumi & berperan maksimal sebagai khalifah fil ardh, hidup hanya untuk rajin ibadah sambil nunggu mati-pahala untuk bekal pulang kampung akhirat abadi, pelarian selamanya.

Pemikiran kesembilan: Tasawuf yang berhenti pada pengalaman, tidak pada produksi ilmu. Ketika tradisi tasawuf berkembang menjadi sistem yang terutama berorientasi pada pengalaman spiritual subjektif — dhawq, rasa — tanpa menghasilkan pertanyaan detail-operasional yang produktif, ia menyimpan energi intelektual yang besar dalam wadah yang tidak mengalirkan ke peradaban. Ngga ada transformasi karya/ penemuan yang membantu kemaslahatan umat. 

Mengapa 9 pemikiran ini perlu disadari telah Usang sekarang? 9 pemikiran ini bukan fosil sejarah yang tidak relevan. Mereka masih hidup — Ummul Barāhīn masih diajarkan di pesantren-pesantren, Tafsīr al-Jalālayn masih menjadi referensi standar, dan cara pandang yang diwariskan oleh keduanya masih membentuk epistemologi jutaan Muslim hari ini.

Selama pemikiran usang ini masih mengakar — maka sains apapun yang tumbuh dari pertemuan antara Al-Qur'an dan sains modern hanyalah cocoklogi, bukan semangat keilmuan mengembangkan detail-operasional yang konsisten dengan penerapan nilai-nilai quran.


Penutup

الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ 

"hikmah adalah sesuatu yang hilang milik orang beriman."

 Dan memungutnya kembali membutuhkan semangat & kejujuran mengakui kekhilafan yang menyebabkan ia hilang — dan keberanian untuk mengoreksi, meskipun yang perlu dikoreksi adalah nama-nama besar yang sudah berabad-abad dihormati.

Bukan untuk merendahkan mereka. Melainkan karena penghormatan yang sesungguhnya adalah melanjutkan semangat ijtihad mereka yang terbaik — semangat fisabilillah mencari kebenaran dengan cara yang paling jujur dan paling konsisten yang tersedia di zaman kita. Dan di zaman kita, tersedia fondasi sains, matematika, dan filsafat yang lebih mapan dari apa yang mereka miliki. Cara yang paling jujur dan konsisten itu adalah keberanian mengakui & mengoreksi karya mereka yang tidak ada jaminan maksum.

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ 

— Ceritakanlah, agar mereka berpikir. Termasuk cerita tentang di mana peradaban pernah salah jalan — bukan untuk meratapi, melainkan untuk menemukan kembali jalan yang benar & tidak mengulang jatuh di jurang kesalahan yang sama.

Artikel ini membuka diskusi teologi filsafat sains awalnya di dalam ruang grup tertutup pesantren islam exacta diasuh oleh ust. Ahmad Thoha.  Kini dibuka untuk umum silakan dikritisi, mangga sambil ngopi. 

Komentar

Postingan Populer